Senin, 04 Mei 2009

Peringatan Hari Bumi Sedunia Musikalisasi Puisi ‘’Masa Tanpa Ulang’’


Diantara rancak musik perkusi itu ada syair-syair indah mengungkapkan keresahan seorang insan manusia yang telah jenuh hidup di alam semesta yang mengalami kerusakan. Begitulah setidaknya prolog musikalisasi puisi ‘’Masa tanpa Ulang’’, di Auditorium Kampus I Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM), dalam peringatan hari bumi sedunia.
Pementasan itu dibawakan dalam kolaborasi tiga komunitas, antara lain Alam Raya Institut, Teater Fajar UMM, Rupadatu Percution. Kemudian didukung instalasi Hery Selot dan Ipeh.
Keresahan-keresahan yang diungkapkan dalam bait-bait indah dibalut musik dari Intitut Alam Raya, menjadikan penonton terlelap dalam bayangan kondisi alam sekarang ini. Anak-anak digambarkan kehilangan halamannya, ketika pembangunan di negeri ini terus mengikis habis potensi alam.
Kemudian dipertegas dengan intalasi di sisi kanan panggung. Ada sebuah pohon yang daunnya terlepas dari ranting dan sebagian pohon itu berdaun sandal jepit. Tak jauh dari tempat itu, Hery Selot dan Caulil Ipeh melukis di atas kanvas.
Warna-warni pewarna itu berbuah gambar pohon yang tak tuntas. Kemudian mereka memberikan beberapa kalimat dalam lukisan itu. Entah apa maksudnya, yang jelas kedua pelukis bermaksud memberikan penafsiran berdasarkan situasi hatinya, tentang penggundulan hutan dan bumi yang gersang.
Andai saja bumi dapat bersuami
Maka beranak pinaklah bumi
Hingga tak terbatas lahan.
Seandainya aku laminating jagad
Pasti batas pandangku tak kan berubah
Hingga aku menjadi penguasa panorama
Bait puisi itu terucap dari mulut Gepeng Nugroho, mencoba mempertanyakan alam semesta. Mengandai-andai hukum alam itu telah berubah, alam semesta keluar dari kodratnya, membelah diri dan beranak.
Sebuah khalayan yang tak mungkin terjadi. Tapi bisa saja itu terjadi ketika bumi ini membelah diri, bukan proses generasi tetapi terbelah karena kehancuran.
Kemerdekaan mengartikan bumi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari musikalisasi puisi dalam rangkaian acara Peringatan hari bumi sedunia yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang. Melontarkan kalimat-kalimat keresahan dan kemudian disambung dengan ungkapan falsafah penyikapan fenomena itu.
Balutan musik digital dan percusi terasa meringankan para penonton untuk mencerna kalimat-kalimat yang berat itu. Bahkan kemasan itu menjadikan pertunjukan semakin indah dinikmati.
Menurut Gepeng Nugroho, apa yang dipersembahkan itu adalah sebuah ungkapan keresahan melihat fenomena lingkungan sekarang ini. Ketika manusia dihadapkan berbagai persoalan lingkungan, maka harus menggunakan logika dan pikirannya untuk menyelematkan.
‘’Kami yang kesehariannya berkonsentrasi di bidang seni dan budaya maka dengan media itulah mengampanyekan tentang penyelematan bumi dan kelestarian lingkungan,’’katanya.









0 komentar:

Posting Komentar

Posting Komentar

 
© free template by Blogspot tutorial